jump to navigation

Pakai Kartu Kredit atau Cash Juli 29, 2009

Posted by Voip Murah in Pendapat.
Tags:
14 comments

Suatu hari di Pusat Handphone Roxy
Nkoh : Ok HP Blekbeli wo habisnya Go tiao (baca : 5 juta) da
Toni  : Ok de Nkoh (sambil mengeluarkan kartu kredit Citibank dari dompetnya)
Nkoh : Apa nggak ada cash aja?
Toni  : Nggak ada
Nkoh : Tapi ntar di tambah 3 pelsen ya?
Toni : waduh..?? tapi nggak apa de
Nkoh : Kalo gitu bisa wo minjem lu punya KTP (terus si Nkoh membandingkan photo yang ada di KTP dan Kartu Kredit). Wah solly photonya nggak sama ama lu punya kaltu kledit, jadi wo gk bisa ploses!
Toni  : Gimana si Nkoh? ini kartu kredit saya!, itu photonya 3 tahun yang lalu!
Nkoh : Solly ya mas, wo nggak bisa ploses
Toni : ya uda, gua nggak jadi beli hpnya!

KKKejadian di atas mungkin pernah terjadi pada anda, ketika kita akan bertransaksi menggunakan kartu kredit. Untuk merchant-merchant kecil mereka lebih memilih menerima cash ketimbang kartu kredit. Namun bila nominal transaksi lumayan besar misalnya di atas 5 juta, tidak mungkin pembeli/konsumen membawa uang kas sebesar itu. Dari segi keamanan dan kemudahan, coba banyangkan uang 5 juta kalau disimpan di dompet tentu saja dompetnya akan menjadi relatif tebal. Apalagi kalau uang itu di tenteng, apakah tidak mengundang niat jahat orang lain.

Meskipun merchant ini menerima pembayaran dengan kartu kredit namun pembeli akan diminta menunjukan KTP atau identitas diri untuk dicocokkan dengan informasi pada kartu kreditnya. Apabila ditemukan informasi yang berbeda atau mencurigakan maka transaksi dapat dibatalkan sepihak oleh merchant. Tapi bukannya ada mesin otorisasi online yang lebih “berhak” untuk menentukan apakah kartu kredit yang dipakai itu valid atau tidak valid. Hal ini dapat merugikan pembeli dan juga merchant bersangkutan karena transaksi batal dilaksanakan. Permintaan untuk menunjukan KTP ini juga bisa menimbulkan perasaan terhina pada pembeli, karena pembeli tentu saja merasa di remehkan atau dicurigai menggunakan Kartu Kredit palsu. Sampai ada yang berkata, saya aja transaksi ratusan juta tidak pernah ditanya ini itu, apalagi transaksi pembelian HP yang cuma 5 jutaan.

Biaya tambahan 3 %

Ada lagi item yang sampai sekarang saya belum tahu apakah hal ini legal atau tidak legal. Adalah merchant yang membebankan biaya tambahan atas transaksi sebesar 1-3%. Apakah hal ini adalah kompensasi dari biaya telepon atau Bank yang menyediakan mesin otorisasi membebankan biaya sejenis abondemen kepada merchant, sehingga merchant membebankan kemudian kepada pembeli. Untuk transaksi 1 juta, 3 % nya sebesar 30. 000.  Coba bila ini hanya untuk kompensasi biaya telepon mesin otorisasi yang hanya sebesar kurang dari Rp 1000/transaksi?. Tentunya biaya ini akan semakin besar dengan semakin besarnya nominal transaksi.

BCA Flash, Mandiri E-toll, efektif kah?

Lain halnya dengan Negara tetangga kita Singapore yang telah menerapkan Kartu Easypay yang terintegrasi dengan hampir semua retailer dan MRT, juga  Hongkong dengan Octopus cardnya. Jadi konsumen hampir tidak lagi menggunakan uang kas dalam transaksi sehari-hari. Hal ini sangat bermanfaat untuk kepraktisan dan kecepatan transaksi.

Di Indonesia juga mulai diterapkan seperti ini misalnya Flash card dari BCA dan E-toll dari Mandiri namun terobosan ini dinilai setengah hati dan sarat dengan kepentingan bisnis. Kenapa Flash tidak diintegrasikan dengan pembayaran tol?.

Note : Pic Credit card taken from http://enpo.org/wp-content/uploads/2008/09/card3.jpg