jump to navigation

Menanggulangi Kemacetan di Jakarta Maret 11, 2008

Posted by Voip Murah in Pendapat.
Tags: , , , , ,
trackback

Macet? apa bisa ditanggulangi?

Kenapa tidak Metromini, PPD (yang dibiarkan mati
pelan-pelan), Kopaja, Mayasari bakti, Bianglala yang di “santuni”? diberi
semacam softloan ke pengusaha kendaraan publik ini sehingga bisa
memperbaharui armadanya? kenapa harus busway??kenapa tidak memperbaiki Kereta api PTKA yang terseok-seok harus mandiri dengan subsidi yang semakin berkurang?



Jakarta bukan hanya Ibu Kota Republik ini namun adalah “Taman mini” Rebuplik ini sehingga semua yang terjadi di kota ini menjadi cerminan indikator keberhasilan dan kegagalan pengambil keputusan.

Bila kita ke Singapore ada MRT di KL ada Monorail di Paris ada Metro di Newyork ada Subway di Jakarta ada…. Busway.
Tapi apakah Busway menjadi solusi mukhtahir dari permasalahan genting kemacetan di Jakarta?? silahkan telaah sendiri.

Data Statistik
Menurut data Badan Pusat Statistik (2006), jumlah kendaraan bermotor tersebut sudah mencapai 7.773.957 unit, terdiri atas


mobil 1.816.702 unit, sepeda motor 5.136.619 unit, angkutan barang 503.740 unit, sedangkan bus hanya 316.896 unit.
Sementara itu, luas ruas jalan di Jakarta hanya 27.340.000 meter persegi. Bila semua kendaraan bermotor yang ada di Jakarta saat ini dikeluarkan, ruas jalan yang tersedia itu tidak akan mampu menampung semua kendaraan. Berdasarkan data tersebut, jelas sekali bahwa kemacetan di Jakarta terjadi karena memang jumlah kendaraan bermotor yang ada sudah berlebih, melebihi kapasitas jalan. Adapun jumlah angkutan umumnya hanya 2 persen dari total jumlah kendaraan yang ada. Tapi ironisnya, angkutan umum yang hanya 2 persen itu justru mengangkut 54 persen dari total perjalanan di Jakarta. Sementara itu, kendaraan pribadi hanya mengangkut 46 persen. Dengan kata lain, keberadaan kendaraan pribadi yang sudah mencapai 7 juta itu tidak efisien.Sebenarnya jawaban dari permasalahan di atas adalah kurangi kendaraan pribadi, tambah jumlah angkutan umum, dan perluas kapasitas jalan? So simple toch? tapi tidak ke simple di lapangan? kenapa? tanya kenapa?

Sebagai orang awam yang tidak lulus dari S3 Ilmu Transportasi dan dari melihat dari sistem transportasi beberapa negara dapat memberikan beberapa solusi yang mungkin dapat menanggulangi masalah kemacetan ini.

1. Batasi jumlah Kendaraan
Kendaraan dengan umur di atas 10 tahun di larang memasuki jalan protokol, Sudirman, Simatupang, S Parman, Gatot Subroto, Thamrin, GM, HYMRK, dll
juga menciptakan pemerataan jumlah kendaraan yang terkonsentrasi di Jabotabek ke daerah-daerah lain di Indonesia.

2. Atau bila tidak membatasi umur,Menaikan pajak kendaraan untuk kendaraan di atas 5-6 tahun misalnya, sehingga bila pajak kendaraan naek s.d 50-100% pemilik kendaraan akan berpikir untuk mendingan untuk membeli mobil baru dengan pajak yang lebih rendah. Sehingga ada sirkulasi jumlah mobil.
Tapi kenyataan di lapangan semakin tua kendaraan pajak semakin rendah. Sehingga tidak aneh kita dapat melihat kendaraan “tua” yang tidak laik jalan “berkeliaran” sembari mengeluarkan gas buang (asap)

3. Sistem Sticker untuk memasuki kawasan pusat kota. sticker ini dijual dengan harga tinggi dan jangka waktu tertentu sehingga hanya orang yang berkantong tebal yang bisa membeli, tentunya& ini tidak berlaku untuk taxi dan kendaraan umum lainnya. Uang hasil penjualan sticker dapat masuk ke kas daerah/pusat untuk memperbaiki sarana prasarana jalan.
Menengok ke belakang jelas sudah Sistem 3 in 1 adalah sistem “bodoh” yang tidak menjadi solusi.Kita tahu sistem ini di”ciptakan” oleh dokter lulusan S3 namun bisa di “jebol” oleh anak-anak atau orang yang tidak lulus SD dengan menjadi Jocky 3in1, Ironis bukan?

4. Memberlakukan standard Emisi Gas buang dengan menggunakan standard Euro-2  atau standard yang lebih tinggi. Ini juga berhubungan dengan usia kendaraan karena semakin tua emisi gas buang kendaraan akan semakin buruk. sehingga pemilik kendaraan tua akan menjual dan membeli mobil yang baru laik Euro 2.

5. Perencanaan jumlah kendaraan.
Di Singapore, bila anda mempunyai uang tidak berarti anda bisa membeli mobil, anda harus mendaftarkan diri ke dinas transportasi 1-2 tahun sebelumnya. Pemerintah akan mendata sedemikian urgentnya anda mempunyai mobil? apabila dinilai anda tidak masuk kriteria untuk memiliki mobil maka maaf saja anda tidak boleh membeli mobil atau menunggu beberapa tahun kemudian sampai anda dapat memenuhi kriteria.
Hal ini dengan tujuan pemerintah dapat memprediksikan dan jumlah mobil beberapa tahun mendatang dan dapat disinkronisasikan dengan ketersedian luas jalan sehingga kemacetan dapat dihindari.

6. Perbaiki Sarana Transportasi Publik
Ke 5 solusi di atas bertujuan sama yaitu membatasi penggunaan kendaraan pribadi. Namun itu saja tidak cukup kalau tidak menggunakan kendaraan pribadi terus mobilisasi menggunakan apa? jalan kaki?.Tentu jawabannya adalah menyediakan transportasi publik yang aman, nyaman dan cepat (rapid). Bila kita mengharapkan Sarana transportasi publik di Jakarta menjadi Aman dan Nyaman mungkin sesuatu harapan yang berlebihan, mungkin kata yang lebih tepat adalah Lebih MANUSIAWI. Karena apa yang kita alami sekarang ada transportasi publik yang tidak manusiawi. Puluhan orang di “jejel” kan ke dalam bis metromini/PPD dengan kapasitas 25-30 orang saja. Sehingga sangat miris kelihatannya metromini/PPD/Mayasari jadi miring ke kiri. Bagi orang yang ekonomi menengah ke bawah pilihan membeli motor adalah pilihan utama, dan bagi yang menengah ke atas ya tentunya daripada menggunakan saran a transportasi seperti itu lebih baik membeli mobil atau kasarnya Kredit mobil, dengan DP 10-15 juta saja bisa langsung bawah mobil murah seperti AvaNZA, xENIA, GranMax atah Mobkas lainya. Tentu ini akan menambah jumlah kendaraan yang tidak terkontrol.

Pembangunan Busway sepertinya menjadi momok good willing dari Pemda DKI tapi menurut saya itu adalah the most idiotic project!. Justru Busway itu bukan solusi dari semua permasalahan tapi justru memperparah keadaan. Tadinya jalan 2 jalur (contoh Jl Alteri Pondok Indah) macet buannngattt, ee sekarang di “ambil” 1 jalur untuk busway sehingga macetnya tidak ketulungan!. Kalau kita tanya ke anak-anak Taman Bermain (jangan TK, ketinggian) apakah busway solusi yang tepat pasti semua anak-anak menjawab IDIOTTTO!.
Tapi kok seakan pembangunan Busway dipaksakan, Jangan-jangan (ada emang iya) ada indikasi korupsi sehingga penambahan koridor 5,6 dst dikebut di Bulan November dan Desember 2007 kemarin.. Ohh.. mungkin harus ngabisin anggaran di akhir tahun biar ntar tahun berikutnya dapet lebih banyak!.
Kenapa tidak Metromini, PPD (yang dibiarkan mati pelan-pelan), Mayasari bakti, Bianglala, Kopaja yang di “santuni”? diberi semacam softloan ke pengusaha kendaraan publik ini sehingga bisa memperbaharui armadanya? kenapa busway??
kenapa tidak memperbaiki Kereta api PTKA yang terseok-seok harus mandiri dengan subsidi yang semakin berkurang?

Licensi:
Photo :macet diambil dari http://infoindonesia.files.wordpress.com/2007/11/macet.jpg

Komentar»

1. justranie - Maret 12, 2008

betul banget!! seharusnya orang jakarta pada jalan kaki aja, atau naek speda kaya jaman belanda dulu…
biar gak pada sakit jantung, diabet,,
hehhehee……

2. 10 Besar Google - Desember 16, 2008

Setuju mas Ikman.

Ulasan yang sangat menarik. Hem… macet lagi macet lagi… kebayang waktu saya masih di Jakarta, bagaimana stressnya daku harus bermacet ria dari Daan Mogot mau ke senen aja sampai hampir 2 jam lewat Roxy yang ampun macet banget.

Itu sudah tahun 2006 lalu, apa sekarang masih sama?

===
semua yang terjadi di kota ini menjadi cerminan indikator keberhasilan dan kegagalan pengambil keputusan.
===

Setuju banget, pengambil keputusan harus banyak berkaca, karena kemacetan adalah keberhasilan atau kegagalan mereka. Dan harus bisa ditanggulangi supaya kesannya positif. Kalau nggak… wah bagaimana tuh?🙂

3. SyaJunsu - Juni 14, 2009

harusny dibatasi donk pembelian kendataan itu jgn dibablasin aja trus jg pajak ditinggi,,, biaya parkir dan yg lainnya

dengan begitu kan orang mikir beribu2 kali klo mau beli kendaraan

kan dpt mengurangi polusi udara juga tuchh

4. Renny Candradewi - Februari 16, 2010

“seharusnya orang jakarta pada jalan kaki aja, atau naek speda kaya jaman belanda dulu…
biar gak pada sakit jantung, diabet,” (JustRanie, 2008)

Jalan kaki? menurut saya bukan solusi terbaik. Karena umumnya warga Jakarta bekerja di tempat yang jauh sekali dari huniannya, misalnya saya ngekos di Jalan Pemuda jakarta Pusat, tetapi pekerjaan saya di Cengkareng. Karena tidak puas dengan pelayanan transportasinya maka saya memilih kendaraan pribadi untuk pergi ke sana. Saya setuju dengan saran penulis yang menekankan semestinya pemerintah provinsi jakarta lebih baik mengalokasikan dan mengelola sejumlah fasilitas transportasi umum, bukannya malah menjalankan proyek busway kian kemari, seolah2 hendak dikomersilkan dimana pemerintah tidak mau ketinggalan dalam privatisasi jalan raya. Jika kendaraan sepedamotor di elmininasi dengan menerapkan pajak berpola, sungguh itu merupakan bentuk penindasan terhadap rakyat kecil bukan? Jadi, jika disuruh “jalan” sebenarnya bukan prioritas utama solusi kemacetan jakarta. kayaknya, orang2 yang bekerja di pemprov terlalu kaku untuk menerima saran dari kami, apalagi memfasilitasinya, apalagi memfollow upnya. mereka diganti saja.. hahahahaahaha SEKIAN

5. Argo Yanardi - Mei 16, 2011

mas ikman, saya hanya 84% setuju dgn pendapat mas.
pendapat poin ke 6 ttg perbaikan transportasi publik sptnya kurang tepat mempermasalahkan busway.
knp? krn jika poin 1-5 berjalan dengan baik maka kehadiran busway akan menjadi satu hal yg normal. lagipula secara sistem, busway sdh cukup baik. jgn permasalahkan siapa operator busway yg penting tujuannya sesuai dgn kondisi. tambah macet hanya efek visual yg dikarenakan poin 1-5 tidak dijalankan. tapi secara keseluruhan memang sarana transportasi publik jakarta masih minim. harus didukung oleh sistem kereta listrik yang baik. sementara sekian dulu.

6. antar mobil - Juli 17, 2011

artikel website yang menarik, saya lagi cari informasi lebih lanjut tentang jual beli mobil bekas yang terpercaya

7. ZubeneschamaliY - November 7, 2011

idem sama mas Argo Yanardi… kalo poin 1-5 jalan, poin 6 justru memperkuat sistem transportasi😀

8. Ertiga - Agustus 9, 2012

Kayanya wacana pemindahan Ibu Kota emang harus dilaksanakan kali mas, semakin lama makin macet saja di Jakarta

9. Po Kaos Exo Wolf 88 - Kaos Wanita Murah - Februari 14, 2015

[…] Menanggulangi Kemacetan di Jakarta | Ikman Punya Cerita – Menanggulangi Kemacetan di Jakarta Maret 11, 2008 Posted by Voip Murah in Pendapat. Tags: automotive, busway, DKI, Jakarta, macet, mobil trackback… […]

10. Kaos Starbucks Jakarta - Kaos Wanita Murah - Februari 14, 2015

[…] Menanggulangi Kemacetan di Jakarta | Ikman Punya Cerita – Menanggulangi Kemacetan di Jakarta Maret 11, 2008 Posted by Voip Murah in Pendapat. Tags: automotive, busway, DKI, Jakarta, macet, mobil trackback… […]

11. Kaos Wolf 88 Exo - Kaos Wanita Murah - Februari 14, 2015

[…] Menanggulangi Kemacetan di Jakarta | Ikman Punya Cerita – Menanggulangi Kemacetan di Jakarta Maret 11, 2008 Posted by Voip Murah in Pendapat. Tags: automotive, busway, DKI, Jakarta, macet, mobil trackback… […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: