jump to navigation

Peranan Penting Kaum Urban di Jakarta November 1, 2006

Posted by Voip Murah in Pendapat.
trackback

Gila! banyak warteg yang nggak buka, yang jualan bakso atau somai juga belum nongol, gimana kita bisa makan ni?

Begitulah keluh kesah teman-teman dikantor hampir seminggu ini (30 Oct – 3 Nov 06) ketika mereka dapatkan tidak ada yang jualan makanan di sekitar kantor. “Mungkin mereka masih dikampung masih liburan lebaran bersama keluarga mereka” jawab saya. Akhirnya sebagian besar teman saya makan siang di “mall” yang tentunya harus mengeluarkan “kocek” lebih besar.

Peranan Kaum Urban

Meskipun Pemda DKI menyatakan bahwa kaum urban menjadi suatu beban bagi pemerintah daerah karena dapat mengakibatkan meningkatnya angka kriminalitas tidak tersedianya pekerjaan, pengemis dsb tetapi selain anggapan negatif di atas kaum ini mempunyai peranan yang penting dalam perekonomian Jakarta. Sebagian besar sektor informal dijalankan oleh kaum urban ini seperti penyediaan makanan (warteg & pedagang keliling), buruh bangunan, pedagang kaki lima, pembantu, tukang kebersihan jalan, bengkel, pelacuran (maaf) dan lain sebagainya.
Pada saat krisis moneter Tahun 1997-2000 justru sektor informal inilah yang“survive” ketimbang sektor formal yang “keok” dan bangkrut.
Menurut statistik 70 % peredaran uang di Jakarta ada pada sektor informal.

Jangan Angkuh!

Tetapi dari fakta di atas, pemerintah justru bersikap angkuh dan memandang kaum urban sebelah mata. Seperti ketidakberpihakan mereka pada pedagang kaki lima yang hampir setiap hari dikejar-kejar oleh Trantib/Pol PP. Rumah-rumah kumuh di sepanjang aliran sungai yang di “buldozer” dan para PSK dan tempat-tempat pelacuran yang dirazia oleh petugas.
Tetapi pemerintah tidak sadar betapa “butuh” kita penduduk jakarta kepada mereka kaum urban. Contoh cerita saya di atas ditinggal oleh pedagang warted pulang lebaran warga Jakarta jadi “susah makan”. Dan beberapa keluarga yang kerepotan karena pembantu rumah tangga pada pulang ke kampung.

Wise decision

Kesalahan besar negeri ini adalah selalu menangani suatu masalah tanpa menyelesaikan sebabnya dulu. Dengan sengitnya Pemda DKI menangangi masalah pedagang kaki lima, PSK, perkampungan kumuh, gepeng, pelacuran dan lain-lain, tetapi tidak menengok kebelakang kenapa hal ini terjadi?.
Semuanya itu adalah akibat kebijaksanaan sentralisasi selama hampir 40 tahun Orde Baru yang menjadikan Jakarta sebagai pusat dari segalanya. Pusat pemerintahan, Perekonomian, Perdagangan, Entertainment, dan bahkan Kejahatan. Kalau mau jadi pejabat harus datang ke Jakarta, mau meneruskan pendidikan harus ke Jakarta, mau jadi artis terkenal harus datang ke Jakarta bahkan untuk jadi penjahat besar juga harus datang ke Jakarta.
Jadi tidak heran kalau semua orang berbondong-bondong ke Jakarta, yang mempunyai skill atau yang hanya tamat SD.
Untuk menangani semua masalah di atas tidak dapat dilakukan oleh Pemda DKI sendiri tetapi harus menjadi Kebijaksanaan Nasional yang mempercepat pembangunan daerah dan penciptaan lapangan kerja di daerah-daerah sehingga penduduk setempat tidak harus datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.

Saya adalah juga kaum urban.

Saya lahir di Palembang, dibesarkan dan menamatkan pendidikan juga disana. Ketika saya tamat kuliah tidak banyak yang dapat dilakukan di kota saya, tidak banyak lowongan pekerjaan, tidak ada komersial-industri yang besar yang dapat dijadikan sumber penghidupan dan pada akhirnya dengan tekad bulat saya pergi ke Jakarta untuk mencari sesuap nasih dan Alhamdulillah sampai sekarang dapat meneruskan hidup di kota ini.
Di kampung saya di Palembang hampir 25 % penduduk usia kerja datang ke Jakarta. Jadi tidak aneh bila setiap tahun Jakarta penuh dengan pendatang baru yang melihat betapa “shining” nya Jakarta.  Seorang teman pernah berkata bila kita datang ke Jakarta tanpa bekal pendidikan dan uang, maka we will end 2 things : Penjara atau Kuburan!

Komentar»

1. IndraPr - November 3, 2006

Jadi inget waktu masih kerja di Jakarta, kalo cari makan pasti cari di kaki lima. Habis lah uang di dompet kalo makan di restoran terus…

2. ikman - November 4, 2006

Emang benar mas indra, gila seminggu sesudah lebaran sedikit warteg yang buka, warteg yang paling gk enak aja banyak diserbu oleh pelanggan yang kelaparan

3. iman Brotoseno - November 13, 2006

ya memang kaum urban yang termarjinalkan dengan kebijakan pemerintah DKI,..

4. bataviase - November 14, 2006

Mungkin ada salah kaprah. Yang belum berhasil namanya kaum urban. Kalo udah berhasil namanya warga Jakarta.

5. ikman - November 14, 2006

menurut saya kaum urban adalah orang yang lahir di daerah kemudian karena satu hal misalnya mencari pekerjaan di Jakarta. Dan kemudian mereka mendapatkan KTP Jakarta ya tentunya disebut penduduk Jakarta

6. bataviase - November 17, 2006

maksudku yang salah kaprah bukan Ikman, tapi yang menyatakan bahwa kaum urban menjadi beban pemda. Kalau masih pedagang k-5 dibilang kaum urban. Tapi kalau sudah jadi orang kaya, dianggap warga Jakarta….

7. linda - Januari 30, 2007

gimana lagi yah, aku jg gak ngerti bgt jakarta itu gmn, tapi waktu aku berkunjung ke sana emang gak betah bgt, sumpek trus polusinya amit2 lagi, beberapa kota lainnya juga udah mulai tuh ikut2 an yg jelek2 nya dari dampak urban jakarta, maka jadilah kota 2 lainnya sok2 an gaul trendi dan segala macam yg menurut mereka itu bagus……….maka slamat datang deh korban2 baru urbanisme he he

8. sarvanna - Mei 16, 2010

anak2 muda Palembang, yg merantau ke jakarta, tanpa skill dan pendidikan, dikenal sbg bandit


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: