jump to navigation

Lagu-lagu anti kemapanan (KUBURAN) Mei 27, 2009

Posted by Ikman in Pendapat.
Tags: , , , ,
trackback

Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya
Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya
Ingat, ingat ingat ingat, cuman ingat kuncinya
Ingat, aku ingat ingat, cuman ingat kuncinya


C A minor D minor ke G ke
C lagi A minor D minor ke G ke
C lagi A minor D minor ke G ke
C lagi

…….

http://www.youtube.com/watch?v=6K3VYxdsAI8

Lirik lagu ini beberapa minggu terakhir ini kerap kita dengar dan emang enak didengar. Apalagi ketika kita melihat penampilan personil band seperti Group Band lawas asal Paman Sam era Tahun 80 an Kiss. dan kagetnya lagi nama band pendatang baru ini adalah KUBURAN.. Apa nggak salah iya Kuburan.. Nyentrik memang namun ketika kita melihat respon masyarakat sangatlah mengagetkan justru dengan musik easy listening (baca : mudah didengar/dicerna) mampu menembus chart lagu-lagu terlaris.

Fenomena apakah yang terjadi sekarang? kenapa justru lagu-lagu yang dipandang murahan atau penyanyi karbitan yang (maaf) suaranya justru tidak lebih baik dari pengamen jalanan mendapat sambutan baik ketimbang dengan penyanyi atau lagu-lagu mapan yang telah di aransemen canggih yang telah menganut azaz-azaz keindahan dengan alunan nada-nada indah.

Anggaplah Afgan dengan suara mas nya, Delon yang telah memenangkan Indonesian Idol dan penyanyi lainnya yang notabene bersuara bagus. Namun rating nya jauh di bawah lagu-lagu ringan plus bumbu-bumbu jenaka, seperti

Cari Jodoh (Wali)

http://www.youtube.com/watch?v=7t_epxkobPI

Ku berharap (Luna Maya, OST Janda Kembang)

http://www.youtube.com/watch?v=iLurjWrHKYQ

Resah tanpamu (Titi Kamal)

http://www.youtube.com/watch?v=E7cGlD_zJ5c

Mari bercinta (Aura kasih)

http://www.youtube.com/watch?v=2_2eVNwxgbE

Apakah yang tengah terjadi, apakah justru peminat lagu Indonesia sudah ANTI KEMAPANAN? sudah bosan dengan aturan-aturan kaku yang mengikat selama ini? dan perlu sesuatu yang beda dari yang sudah-sudah..

Komentar»

1. refly - September 23, 2009

itu adalah pertanda bahwa manusia-manusia Indonesia, khususnya pekerja-pekerja dibidang seni dan budaya kreatif dan innovatif
“hari genee….”, kebebasan dalam ber-ekspresi, janganlah kita terlalu cepat ber-apriori atau terlalu mudah menilai suatu karya seni dari sisi negatifnya belaka
kita harus bijak dalam menilai, yang penting jangan sampai kebablasan
dan tidak mencuri karya orang/bangsa lain seperti “malingsia” (bangsa kita disebut “indon”)