jump to navigation

Pelajaran berharga dari “Laskar Pelangi” Oktober 23, 2008

Posted by Voip Murah in Pendapat.
Tags: , , , , , ,
trackback

Pendidikan itu berdasarkan dengan pendekatan budi pekerti dan ahlaq bukan dengan pendekatan materi. Kepintaran bukan diukur dari angka-angka namun dengan hati nurani

Tak banyak film Indonesia yang bisa begitu membekas di hati. Jika dulu ada Nagabonar dan kemudian geliat perfilman Indonesia mulai terasa diawali oleh Film Ada Apa dengan Cinta = AADC, maka pada penghujung tahun 2008 ini timbul fenomena baru dengan ditayangkannya film Laskar Pelangi = LP. Film ini telah bertengger di hampir semua bioskop di negeri ini hampir lebih dari satu bulan (starting 25 Sept). Rekor yang mengagumkan setelah Ayat-ayat Cinta = AAC. Bahkan beberapa pengamat memprediksi LP bisa mengalahkan kepopuleran AAC.
Film yang diadopsi dari novel laris besutan novelist Andrea Hirata dengan judul yang sama menceritakan petualangan hidup keseharian seorang anak Desa Gentong di Pulau Belitong (baca: Belitung) bersama ke-9 temannya dan ke-3 guru mereka berjuang mempertahankan kelangsungan sekolah mereka dari penutupan dikarenakan kurangnya jumlah siswa dari jumlah minimal yang ditetapkan oleh Dinas P&K.

Pesan yang mendalam
Tidaklah patut bagi saya untuk membahas isi film atau novel LP, dikarenakan sudah banyak sekali situs yang membahasnya dan juga di official site LP dapat dilihat sinopsinya. Namun saya hanya memberikan ulasan tentang beberapa pesan yang disampaikan dalam film ini.

1. Apabila kita berasal dari keluarga dengan ekonomi bawah di perkotaan atau di daerah terpencil dengan segala kekurangan janganlah takut untuk mempunyai cita-cita. “Gantungkan lah cita-citamu setinggi langit” seperti yang di katakan Lintang dewasa ke anak perempuannya. Jangan pernah putus asa karena dimana ada kemauan di situ ada jalan. Dengan doa dan usaha keras semua cita-cita pasti tercapai, dan jalan yang harus ditempuh untuk penggapai cita-cita diawali dari sekolah dan pengenyam pendidikan. Sebagai bukti seorang anak desa terpencil seperti Ikal (Andrea Hirata) dapat duduk sejajar dengan bangsa lain dengan bersekolah di Negeri Perancis.

2. Apabila kita berasal dari keluarga mampu dimana orang tua memberikan kesempatan sepenuh-penuhnya dengan segala fasiltas, bersekolah di sekolah favorit, buku-buku, pakaian sekolah, uang jajan, kendaraan, dll, janganlah sia-siakan kesempatan ini, karena kesempatan ini hanya datang satu kali dan tidak dapat diulang lagi. Sadarlah bahwa masih banyak anak-anak pintar di luar sana namun tidak mempunyai peluang untuk menerus pendidikan karena keterbatasan ekonomi. Bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan.

3. Saya sangat terkesan pembicaraan antara Pak Harfan (Ikranegara) dan Pak Zulkarnaen (Slamet Raharjo) bahwa Pendidikan itu seharus dilakukan dengan pendekatan budi pekerti dan ahlaq bukan dengan pendekatan materi. Kepintaran bukan diukur dari angka-angka tapi diukur dengan hati nurani. Dengan semakin komersialisasinya pendidikan saat ini agaknya pesan ini sangat mengena bagi pelaku pendidikan dan pengambil keputusan untuk memasukan kurikulum agama dan budi pekerti sebagai kurikulum utama bukan sebagai kurikulum tambahan (baca:pelengkap). Bukan hanya matematika, fisika, biologi dan Bahasa Inggris yang penting namun nilai-nilai moral dan budi pekerti jauh lebih penting. Itulah kenapa sekarang bangsa kita mengalami krisis moral yang begitu serius. Banyak sekali orang pintar yang berpendidikan tinggi dan menjabat posisi tinggi namun budi pekerti nol besar, menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri dan kelompoknya dengan mengorbankan kepentingan orang banyak.

3.Bagi pendidik/guru jangan lah berputus asa, walau dengan keterbatasan gaji dan fasilitas namun tidak ada kebanggaan yang paling berharga dari seorang guru bila melihat anak didiknya berhasil. Yakinlah walau imbalan secara materi tidak seberapa namun pahala Sodakoh Jariah yang akan selalu mengalir walaupun si guru telah lama meninggal. Ini juga menjadikan pesan bagi pemerintah untuk dapat lebih memperhatikan ribuan nasib guru-guru di daerah terpencil ataupun di daerah perkotaan yang mengajar di lingkungan miskin. Karena nasib kelangsungan dari negara ini ditentukan oleh tangan pendidik saat ini. Apabila pendidiknya buruk bagaimana dengan kualitas generasi kita selanjutnya?

4. Setiap anak mempunyai potensi yang berbeda, seperti Ikal yang puitis dengan ketertarikan dibidang sastra, Lintang si anak jenius didikan alam yang pintar Matematika, Mahar si penyanyi yang menyenangi seni, Kucai yang bertendensi sebagai seorang pemimpin, dan Harun seorang anak terbelakang mental namun ada berjuta potensi di dalam dirinya. Seperti halnya pelangi yang berwarna warni namun justru perpaduan warna-warna itu yang membuat pelangi semakin indah. Janganlah menyamaratakan kemampuan anak, janganlah menilai kepintaran seorang anak dari nilai matematikanya 100 atau Bahasa Inggrisnya 90. Adalah kewajiban orang tua dan pendidikan yang harus memahami potensi anak sekaligus memberikan bimbingan dan kesempatan sehingga mereka dapat menggapai cita-cita mereka.

Kritisi Amatir

Selain ini saya mencoba menjadi kritisi film dengan memberikan beberapa hal yang menjadi perhatian saya  yang mungkin terlewat dari kejelian mata dan pikiran seorang Riri Riza Sutradara film ini.

1. Minyak Rambut Tancho
MInyak rambut yang dipakai Ikal untuk memperbaiki rambutnya ikalnya sebelum “date” dengan A-Ling. Minyak rambut berwarna hijau ini sangat terkenal di daerah Sumatera Selatan. Bahkan Bapak saya almarhum juga selalu memakai minyak rambut ini demikian juga waktu kecil saya mencuri-curi sedikit untuk bisa dicoba dirambut saya yang tipis. Tahun 1980-an satu botol minyak rambut ini seharga Rp. 250.

2. Antena UHF di atas Toko Kain dimana Ibu Mus membeli kancing
Sangat jelas sekali di atas toko ini ada antena TV UHF yang begitu jelas bergabung dengan mega-mega matahari terbenam. Tentunya ini tidak otentik tampilan ini, dimana pada tahun 1979 belum ada TV yang menggunakan frekwensi UHF, kalau pun itu TVRI hanya (sampai sekarang) menggunakan frekwensi VHF dan bentuk antenanya berbeda.

2. Wakil president Adam Malik
Sebelum Pak Mahmud (Tora Sudiro) memperkenalkan kalkulator di SD PN Timah, terlihat kamera menangkap foto pasang presiden Soeharto dan wakil presiden Adam Malik. Periode pemerintahan pasangan ini memang berlangsung dari tahun 1978-1983.

4. EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) ditetapkan pada tanggal 16 Agustus 1972, berdasarkan Keputusan Presiden No. 57, Tahun 1972.
Pada Gerbang masuk PT Timah tertulis “DILARANG MASUK BAGI JANG TIDA PUNJA HAK” kemudian di sebelahnya ada tulisan berbahasa Belanda. Namun bila EYD ditetapkan pada Tahun 1972, kenapa pada Tahun 1979 (setting film ini) Tulisan di gerbang masuk ini masih menggunakan ejaan lama. Di dalam novelnya juga Andrea menulisnya dengan sempurna tanpa menggunakan ejaan lama.

5. Kapur cap harimau
Kapur ini memang sering digunakan untuk SD dan madrasah pada waktu itu

6. Cerdas Cermat, Kurun waktu 1980-1990, Dinas P&K begitu mengiatkan kuis Cerdas cermat atau Cepat Tepa antar sekolah dan babak finalnya biasanya ditayangkan di TVRI daerah.

7. Logat Melayu Cut Mini, lebih kental dengan logat melayu Malaysia ketimbang logat melayu Belitong yang ada campuran dengan Bahasa Palembang

8. Tora Sudiro berakting sangat kaku, seharusnya Produser tidak memilih Tora sebagai pemeran Pak Mahmud, saya nilai penampilan Tora di film ini tidak lah bagus kalau tidak bisa dibilang jelek, Logat melayu yang terkesan terpaksa belepotan dengan aksen jawa sehingga kesannya seperti Segmen SINDEN GOSSIP DI EXTRAVAGANZA (baca: lucu!)

9. Poster Oma Irama, Pak Harfan dan Ikal menyebut “Oma” ketimbang Rhoma Irama yang merupakan kependekan dari Raden Haji Oma Irama. Sebelum tahun 80-an dan tentunya sebelum Oma menunaikan ibadah haji dan diangkat jadi Raden oleh salah satu keraton di Pulau Jawa, Rhoma Irama lebih sering dipanggil Oma Irama. Lagu Begadang memang dipopulerkan tahun 1978, jadi wajar kalau Pak Harfan dan Ikal menyanyikan beberapa bait dari lagu ini.

10. Majalah National Geographic dengan cover Suku Asmat yang diberikan Flo ke Mahar yang kemudian menjadi ide kostum karnaval 17 Agustusan. Edisi majalah ini diterbitkan pada Mar 1972, Vol. 141, No. 3 yang memuat tentang Alaska; Canada; tundra; British Columbia; Asmat headhunters of New Guinea; circuses.

11. Buah dan bunga Kremunting ketika Ikal dengan hatinya berbunga-bunga ketika melihat tangan dan kuku indah A-ling ada bunga Putih dan Ungu, dan ketika Ikal mengeluarkan kotak biskuit pemberian A-ling ada Buah Kremunting. Bunga dan buah Kremunting ini banyak tumbuh di daerah Sumatera Selatan, dan menjadi buah favorit anak-anak SD ketika istirahat, Rasa buah ini manis dengan biji-biji kecil. Orang tua dulu sering melarang anak-anak mereka terlalu banyak makan buah ini ditakutkan terkena diare dan usus buntu.

12. Tayangan terakhir setelah pesawat terbang yang membayangkan Ikal telah terbang ke Perancis adalah flashback ke ruang kelas SD Muhammadiyah Gentong, anak-anak menyanyikan lagu rukun Iman, terlihat jelas Akiong tidak terlalu bisa menyanyikan lagu ini, dan memang pada saat ini Akion bukanlah muslim.

13. Pemilihan motif dan gaya pakaian agaknya tidak terlalu mencerminkan Tahun 1979, jelas terlihat model baju Flo seperti baju anak-anak abg sekarang dengan motif garis-garis. Baju adik Lintang ketika dia memaksa untuk ikut ke laut bersama Bapak Lintang (Alex Komang) terlihat seperti baju anak TK sekarang ketimbang seorang anak kecil dari keluarga miskin pesisir.

14. Gedung sekolah yang hanya terdiri 1 ruang kelas dan 1 ruang kepala sekolah. Sepertinya kemiskinan dan keterbatasan sengaja ditonjolkan dalam film ini. Walau di dalam novelnya Andrea menggambarkan sekolah mereka “tidak miskin-miskin amat”, terdiri dari 6 ruang kelas (kelas 1- 6) dan pagi untuk SD dan sore dipakai SMP Muhammadyah. Tentunya muridnya pasti banyak tidak hanya “gerombolan” 10 orang itu saja.

Maju terus Miles production!

Dari semua baik dan buruknya film LP ini, namun tidak salah bila saya berpendapat film ini telah menjadi sebuah oasis di dunia perfilman Indonesia yang baru beberapa tahun bangkit namun telah dipenuhi dengan topik sejenis dan monoton berkisar dari mistis, romantika remaja, sex dan komedi.
Two thumbs up! buat Miles production dan Riri Reza yang mampu menuangkan seluruh curahan hati Andrea Hirata dalam bentuk film dengan durasi kurang dari 2 jam.
Kita tunggu film kedua dari Tetralogi Andrea Hirata, Sang Pemimpi.

PS: Photo Laskar Pelangi diambil dari Situs resmi Laskar Pelangi dan Photo Ikal berbunga diambil dari screeshot Trailer LP yang beredar di youtube

About these ads

Komentar»

1. Bhongky - Oktober 28, 2008

sampai skarang belum sempat juga nonton film nya

2. Ikman - Oktober 28, 2008

wa harus dong, ya sekedar jadi setetes embun untuk semua kerumitan hidup

3. orchid - Oktober 30, 2008

aku uda nonton..bahkan sampai dua kali..

tragis memang kondisi pendidikan di Indonesia, biarpun setelah novel Laskar Pelangi ini diFILMkan,kurang sesuai dengan isi novelnya, dan lebih mengarah kesisi humorisnya, cuma satu hal yang pengen aku sampaikan, besar harapan ketika manusia di indonesia ini menonton dilm ini menangkap apa maksud dan pesan dari film ini..

benar apa kata mas ikman, ilmu pengetahuan itu sangat banyak dan pendidikan itu penting, tetapi tidak semua orang mampu menikmati hal tersebut..

mari kita sama2 berjuang utk terus mencapai apa yang menjadi mimpi kita.. :)

regards,

orchid
gambatee ne

4. ANDINA - November 5, 2008

FILM YG BAGUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUS BGT2…SMPE GUE NANGIS TRHARU…

5. Ikman - November 7, 2008

kadang ketika kebosanan dan kegelisahan menyerangku, membaca laskar pelangi membuat ku bangkit lagi. Dari semua halangan dan cobaan yang menerpa ku, semunya itu belum seberapa dengan yang dialami orang lain. Sehingga selalu membuatku menundukan kepala dan bersyukur kepada-Nya.
What a inspiring story!

6. mahfudz - November 9, 2008

Alhamdulillah, saya sudah nonton film ini beberapa minggu yang lalu. Dan seperti yang dituliskan Pak Ikman banyak sekali hikmah yang dapat kita petik dari film laskar pelangi ini.Terutama ucapan bijak yang disampaikan tokoh Pak Harfan: “Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya” sangat mengena di hati saya.
Salam kenal buat Pak Ikman………

7. Ikman - November 11, 2008

salam kenal kembali

8. david - Desember 3, 2008

saya males nonton filem ini
soal nya sutradara + produser nya ‘ belagu’
gak ikut FFI
emang si FFi kita gak sempurna
tapi dengan memboikot / tdk ikut menurut gw gak akan membawa perubahan apa apa
mudah mudahan Miles production cepet ‘bangkrut’

9. orchid - Desember 3, 2008

buat DAVID,

aneh deh kamu..hehehe… apapun bentuk perlawanan mereka..itu wajar..semua org bole melakukan sesuatu atau mengambil tindakan..selama landasan argumentasinya KUAT.. aku rasa mereka cukup kuat kok alasannya kenapa menolak FFI..

toh selama ini..tidak ada jalur benar di INDONESIA ini…

10. Belajar Bisnis Online - Desember 16, 2008

Wah ulasan yang sangat detail dan menarik kas Ikman.

Jadi pengen nonton banget nih sekarang. Apalagi ada yang habis nonton sampai nangis terharu. Ada apa sih dengan film ini? :)

11. Ikman - Desember 17, 2008

#.8 david
Ya kita hargai saja keputusan mereka, tapi ikut tidak ikut, atau menang tidak menang FFI juga tidak akan mempengaruhi kualitas sebuah film. Memang apabila sebuah film menang dalam FFI secara komersial dan nilai jual pemain menjadi naik, namun biasanya tidak dibarengi dengan perbaikan kualitas, seperti Tora sudiro yang seperti kacang goreng muncul di sana sini meski secara casting jauh dari sempurna.
Saya pikir juga dalam penilaian FFI sarat dengan kepentingan komersial yang kuat (secara materi) tentunya akan mendapat “chance” yang lebih baik

12. agus - Januari 14, 2009

ehm buat mas David, ingat gak knpa Riri Riza Mira Lesmana boikot dari FFI, karena Komersial smua. Dulu yg menang kalo gak salah Eksskul (bener gak??), yg secara kualitas jauh dari sempurna, malah ada jual beli juara segala…

13. Arif - Mei 19, 2009

Apresiasi setinggi tinggi nya buat penulis novel LP: Andrea Hirata.
Begitu juga buat Mba Mira Lesmana yang telah bersusah payah mem-visualisasikan novel LP.

Begitu juga apresiasi dan rasa hormat saya utk Ikman yang dengan ketelitian dan kesabarannya meng-highlight point point penting dalam LP.

Saya beli CD dan juga novelnya. Bersama istri dan anak2 nonton bareng dan kemudian membahasnya. Dalam film ini banyak yang bisa diambil utk membangun karakter anak. Keterbatasan, kegigihan dan kecerdasan Lintang, ketulusan dan kesabaran pak Harfan dan Bu Muslimah, Keberanian dan tanggung jawab yang ditunjukan Mahar dst.

Anak2 ku yang masih duduk di bangku SD dan TK mendapatkan gambaran jelas dari film ini dengan contoh nyata dan mudah utk mereka cerna.

Selamat & success bagi mereka yang berkreasi, berjuang utk Indonesia menjadi lebih baik dan bermartabat.

14. nurahmat_priono - Agustus 14, 2011

Manteb boss, salam kenal

15. reka arjai - Februari 22, 2012

bagi gwe, iyalah jati anak bangsa tidak hilang terhakis dengan segala akriditasi pembangunan anak anak lokal baik di SMA lalu jati diri itu harus naik terlaksana, Merdeka kah pejuang pejuang rakyat indonesia dengan terhasilnya film laskar pelangi? mampu mengutip ratusan millionaire?
bangkitlah rekyat indonesia semua, mari kita seru agak bisa dapat mgikuti perajaln rakyat

16. bebek - April 13, 2013

kecE, tuga sgue udah selese bro!!!! tengs yo……………

17. supardy' family - April 13, 2013

ralat(?)
*tugas
*gue

18. Pulau Tidung - April 16, 2013

Hem… pinterpun bukan jaminan hidup senang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: